Connect with us

News

Potensi Pariwisata Maluku Besar, Anna Harap Masuk Dalam Prioritas Pempus

Jakarta – Pemerintah Pusat (Pempus) telah menetapkan lima daerah pariwisata di Indonesia sebagai prioritas super untuk dikembangkan ke depan, yakni Labuhan Bajo di NTT, Bitung di Sulawesi Utara, Mandalika di NTB, Borobudur di Jawa Tengah dan Danau Toba di Sumatera Utara.

Anggota DPD-RI Dapil Maluku Anna Latuconsina menuturkan, potensi pariwisata di Provinsi Maluku begitu luar biasa, namun belum mendapat perhatian serius dari Pempus. Lima wilayah pariwisata yang menjadi prioritas super oleh Pempus baiknya ke depan merambah ke wilayah lainnya di Indonesia.

“Mungkin untuk membuka juga maenset orang Maluku atau Pemerintah Daerah (Pemda), dan kita memerlukan informasi Pempus dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Maluku juga punya potensi seperti ini, jadi kita berharap lima priorotas super ini akan terjangkit ke provinsi yang lain,” kata Anna dalam Fokus Group Diskusi (FGD) dengan Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) DPD-RI pada, Kamis (21/11) kemarin.

Dikatakan senator perempuan asal Maluku ini, dirinya adalah pelaku usaha di bidang pariwisata di Maluku. Dalam perjalanan usahanya, Anna terus mendorong Pemda untuk menyusun peraruran soal tata ruang pariwisata, tetapi hingga saat ini belum terealisasi.

“Saya juga pelaku pariwisata di daerah sering sekali mendorong Pemprov Maluku, tapi sampai saat ini kita belum punya tata ruang pariwisata dan saya lihat Maluku diuntungkan dekat dengan Australia, dan ada potensi yang sangat besar dan bagus sekali didaerah,” ujar Anna.

Bahkan, lanjut Anna, wilayah Maluku sangat dekat dengan Kota Darwin di Australia dan peluang untung besar di bidang pariwisata buat Indonesia, terkhusus Maluku sangat besar. Senator tiga periode ini mengakui, pihak Australia berharap agar wilayah di kawasan Maluku Tenggara terbuka agar mereka bisa menjangkaunya.

“Maluku Tenggara itu berjarak 400 km dari kota Darwin dan itu dekat sekali. Saya juga pernah rapat dengan Walikota Darwin, mereka berharap agar daerah itu terbuka dengan lebar, karena di Darwin orang memarkir kapal-kapal layar itu sangat mahal sekali, dan kalau mereka pasti berlayar juga ke pulau-pulau yang ada di sekitar kita,” ucapnya.

“Nah untuk itu mereka berharap, mereka mempunyai kapal-kapal layar itu bisa diparkir di Indonesia dan tentunya ini akan mendatangkan inkam bagi Indonesia, kemudian ada oenyeraoan tenaga kerjanya dan itu terbuka. Kita sudah melakukan satu lobi-lobi dengan Pempus, tapi ada sedikit kendala menyangkut keamanan,” tambah Anna.

Saat ini kata Anna, penerbangan dari Kota Darwin menuju Maluku Tenggara belum dibuka secara langsung, dan para wisatawan biasanya mengikuti jalur penerbangan dari Bali ke Maluku, dan kemudian menuju Maluku Tenggara. Kondisi ini membuat wilayah Maluku Tenggara sangat tertinggal dari wilayah lainnya di Indonesia.

“Saat ini mungkin tidak terbang langsung dari Darwin ke saumlaki atau ke Maluku Tenggara Barat tadi, tetapi mungkin dari Bali ke Saumlaki, jadi pintunya dari Bali dulu ke Provinsi Maluku. Penerbangan kesana bisa pakai pesawat yang milik garuda dan sebagainya, dan jalur ini tidak terbuka sama sekali sehingga kita Maluku merasa ditinggalkan,” jelasnya.

Diketahui, FGD BKSP DPD-RI dengan Tema “Mewujudkan Pariwisata Tingkat Dunia” itu dihadiri oleh Doktor Wawan Gunawan selaku asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Doktor Diaz Pranita selaku kepala Laboratorium Pariwisata Universitas indonesia. (***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in News